Terkadang tanpa sadar kita
melupakan begitu saja sikap,
perbuatan dan perlakuan kita kepada
orang lain atau kepada saudara kita atau mungkin kepada orang yang berjasa dalam melahirkan
kita di dunia ini yaitu ibu dan
bapak kita. Terkadang kita memperlakukan
ibu kita ibarat seorang pembantu yang dengan entengnya tanpa dosa kita
menyuruh beliau untuk untuk melayani
semua kebutuhan, mulai dari mencuci pakaian dan menyiapkan makan. Tanpa kita
sadari kerkadang kita membentak dan marah kepada orang tua kita kalau apa yang
mereka lakukan tidak sesuai dengan harapan kita pada itu adalah dosa besar.
Bapak dan ibu adalah dua sosok
yang seharusnya kita muliakan, kita hormati dan kita perlakukan bak laksana
seorang raja dan permaisurinya. Yang kita siap sebeliau membantu
meringankan beban hidupnya, meringankan
pekerjaannya bukan malah sebaliknya kita membuat mereka seolah-olah tak
berhenti bekerja. Dikala kita masih dikandungan mereka dengan ikhlas merawat
kita, membawa kita kemanapun mereka pergi walupun dengan beban yang sangat
berat. Belum lagi ketika mau melahirkanpun seorang ibu berjuang antara hidup dan mati
untuk bisa melahirkan kita ke dunia ini.
Setelah lahir dengan selamat
kitapun disambut dengan riang gembira, tanpa merasakan lagi sakit yang amat
sangat. Seolah-olah sakit yang baru saja ia rasakan sudah sembuh dengan
kehadiran kita. Belum lagi kekhawatiran kedua orang tua kita ketika usia kita
menginjak dewasa merekapun dengan susah payah mencarikan uang untuk
menyekolahkan kita bila perlu mencarikan lembaga pendidikan yang favorit atau yang bisa
membuat kehidupan kita lebih baik dari
kehidupan yang sedang mereka jalani saat ini.
Bahkan untuk seorang anaknya
seorang ibu atau ayah rela untuk mengorbankan semua harta bendanya dikala kita
sakit atau disaat kita membutuhkan uang
untuk melanjutkan sekolah, mereka dengan rela menjual harta benda yang
mereka miliki, agar anaknya bisa menjadi
sukses dan berhasil.
Begitu besar pengorbanan orang
tua kepada kita tapi balasan bagi mereka
malah sebaliknya. Benarlah apa yang dikatakan Peribahasa
“ air susu dibalas dengan air tuba”. Ayah dan ibu kita menyayangi kita
sepenuh hati tapi kita menyanginya separoh hati.. Padahal kita bisa membalas
budi kepada orang tua kita….?! mana susu
yang kita minum yang diberikan oleh ibu kita dengan ikhlas tanpa minta imbalan
sedikitpun..?! mana bubur yang selalu kita makan setiap hari, mana baju yang
kita pakai setiap hari, mana uang sekolah dan
uang jajan yang kita pakai untuk
kesenangan kita dan mana ….(masih banyak
lagi) yang seandainya bapak ibu kita minta imbalan itu tentu kita tidak bisa
membalasnya walaupun dengan uang banyak sekalipun.
Bagi orang tua, anak merupakan
harta yang paling bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Oleh karena itu, orang tua
melakukan berbagai upaya untuk keberhasilan anak-anaknya, apapun yang dilakukan
oleh orang tua pada ujungnya adalah untuk kebahagiaan anak-anaknya. Upaya orang
tua untuk keberhasilan anak, mereka rela berkorban jiwa raganya untuk
mencarikan biaya dan berdoa siang malam untuk keselamatan dan keberhasilan
dambaan hatinya. Disinilah kita perlu memahami perjuangan yang mendalam
terhadap pengorbanan orang tua. Dengan jalan perenungan pada saat dimana orang
tua sedang beraktifitas dibawah teriknya matahari, dapat kita bayangkan “orang
tuanya petani pasti disibukkan oleh ladang dan cangkulnya, guru disibukan oleh
murid dan kenakalannya, pegawai pasti disibukkan oleh tugas dan dimarahi
atasannya dan orang tuanya pedagang disibukan oleh barang perniagaan dan untung
maupun kerugianya.
Jerih payah orang tua yang
diperoleh dengan kerja keras tersebut dikirimkan untuk keperluan biaya sekolah,
biaya untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan sering sebagian orang tua terpaksa
menjual berbagai harta yang dimilikinya untuk mampu membiayai berbagai
kebutuhan anaknya untuk melanjutkan pendidikan guna meningkatkan kualitas taraf
hidupnya.
Sebagian orang tua tidak mengharapkan apapun dari
perjuangan yang dilakukannya, tetapi hanya sebuah kebanggaan baginya karena
sudah mampu mendidik anak-anaknya lebih sukses darinya. Walau sebagaian petani,
jika anaknya sudah sarjana dan sukses, tetap menjadi petani dan pekerja
bangunan pun juga seperti itu.
Waktu kamu berumur 1 tahun beliau menyuapi dan
memandikanmu, sebagai balasannya
kau menangis sepanjang malam...
Waktu kamu berumur 2 tahun beliau mengajarimu cara
berjalan,sebagai balasannya kau kabur saat beliau memanggilmu...
Waktu kamu berumur 4 tahun beliau memberimu pensil
untuk mewarnai, sebagai balasannya
kau corat coret dinding rumah dan meja makan...
Waktu kamu berumur 7 tahun beliau memberikanmu bola,
sebagai balasannya kau lemparkan bola ke jendela tetangga...
Waktu kamu berumur 10 tahun beliau mengantarkanmu ke
mana saja, dari kolam renang sampai pesta ulang tahun, sebagai balasannya kau
bermain asyik dengan temanmu sampai tidak mendengar panggilan orang tuamu…
Waktu kamu berumur 13 tahun beliau menyarankanmu
untuk memotong rambut karena sudah waktunya, sebagai balasannya kau bilang
“mama tidak tahu mode…”
Waktu kamu berumur 15 tahun beliau pulang kerja
ingin memelukmu, sebagai balasannya
kau kunci pintu kamarmu
Waktu kamu berumur 18 tahun beliau menangis terharu
ketika kamu lulus SMA, sebagai balasannya kau berpesta dengan teman-temanmu
sampai pagi...
Waktu kamu berumur 19 tahun beliau membayar semua
kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama, sebagai balasannya kau
minta diturunkan jauh dari pintu gerbang
agar tidak malu sama teman-teman karena orang tuamu
jelek...
Waktu kamu berumur 20 tahun beliau bertanya “Dari
mana saja seharian ini?” sebagai balasannya kau menjawab “Ah cerewet amat sih mau
tau aja urusan anak muda”...
Waktu kamu berumur 25 tahun beliau membantumu
membiayai pernikahanmu, sebagai balasannya kau pindah ke kota lain menjauhi
orang tuamu...
Waktu kamu berumur 30 tahun beliau memberimu nasehat
bagaimana merawat bayimu,
sebagai balasannya kau katakan “Sekarang zamannya
sudah beda, Ma…”
Waktu kamu sudah jadi orang sukses beliau menelponmu
untuk beliauntar ke acara syukuran salah satu saudara dekatmu, sebagai
balasannya kau jawab “Aku sibuk sekali, banyak kerjaan kantor, Ma…”
Waktu kamu berumur 35 tahun beliau sakit-sakitan
sehingga memerlukan perawatanmu, sebagai balasannya kau baca tentang pengaruh
negatif orang tua yang numpang tinggal di rumah anaknya...
Dan hingga suatu hari beliau meninggal dunia dengan
tenang, dan tiba-tiba kamu teringat semua yang belum pernah kamu lakukan, dan
itu menghantam HATIMU bagaikan pukulan GODAM...
Cobalah katakan pada dirimu, cobalah renungkan.
Beberapa tahun lalu saat kita dikandung oleh orang
tua, betapa bahagia mereka, mengharap anak yang akan lahir adalah anak yang
berbakti dan selalu sayang kepadanya.
Tapi coba renungkan, apakah kita begitu?
Saat melahirkan kita, orang tua kita merasakan sakit
yang amat sangat, menangis kesakitan, antara hidup dan mati.bahkan mungkin jika
diberi pilihan oleh tuhan antara menyelamatkan nyawanya atau nyawa bayinya,
pastilah ia akan memilih menyelamatkan bayinya, ibu memberikan kita asi waktu
bay1, menahan derita menggendong kita seharian.
Tapi apa????apakah kita saat ini cuma melihat beliau
dengan penderitaannya, mencaci makinya, melawannya, mengacuhkannya…
Coba renungkan…
Sekarang apa balasan kita?????
Saya juga pernah berkata yang tidak baik pada orang
tua saya, membentak, kata-kata kasar,ejekan.hampir semua anak pernah
melakukannya..
RENUNGILAH SEJENAK
Pernahkah kita tahu…
Setiap malam orang tua kita, ibu kita terbangun
tengah malam dan menangis di bantalnya, menangis oleh kata kata kita yang
terlalu menyakitinya????
Sadarkah kita saat kita membentak ibu kita, ternyata
mereka sangat sabar, namun di belakang mereka merasakan perih di hati mereka,
tangisan lirih.
Saat kita pergi meninggalkan mereka karena marah…
orang tua kita sangatlah sedih.. mereka akan menyesali diri mereka, baikkah
itu?
Coba renungkan anak mana yang mau melihat orang tua
mereka menangis?
Mungkin kita tak pernah mau memikirkan kepedihan
yang dirasakan oleh ibu kita.
Saat kita marah, saat kita meninggalkan rumah.. ibu
kita akan menangis.
Baikkah itu?senangkah kalian?anak mana yang senang
membuat orangtua mereka menangis, membuat orang tua merasa sangat tak berharga
hanya karena kata – kata dan kelakuan anak mereka????
RENUNGKANLAH!!!!
Mungkin saat ini beliau masih ada, masih sehat. Dan
saat ini mungkin kamu sedang menuntut pendidikan, jauh dari orangtua. yang
membuatnya sedih
Tetapi rennungkanlah ketika kita pulang dan yang
kita temui adalah sosok yang telah terbujur kaku, kita tak lagi merasakan kasih
sayangnya, yang kita temui hanyalah sebuah nisan…
masihkah kita ingin menyakiti hati mereka, membuat
mereka menangis karena anaknya yang selalu membentaknya, meninggalkannya dalam
kemarahan??
Mungkin saat ini kita sedang bahagia, jauh dari
orang tua kita? Tapi pernahkah kita berpikir, apakah orang tua saya juga disana
bahagia?
Komentar
Posting Komentar